Rabu, 24 Agustus 2016

contoh lelayu bahasa jawa

LELAYU


Inna Lillahi wa inna ilaihi roji’uun

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ngaturi uninga bilih sampun katimbalan wangsul dhumateng ngarsanipun Allah SWT. Hing dinten : Sabtu pahing, 20 Agustus 2016 watawis jam 04.00 WIB, dumugi yuswa 69 tahun Semah, Bapak, Eyang kulo :

Bp. H. Eddy Santoso

Jenazah badhe kasareaken wonten hing Astono Bonoloyo :
Dinten               :   Minggu Pon
Surya Kaping      :   21 Agustus 2016
Wanci Jam          :   10.00 WIB

Bidhal saking griya Jl. Abdul Rahman Saleh No 66 Solo. Sakderengipun bidhal kasholayaken langkung rumiyin wonten Masjid Assa Mina
Saklajengaken kawulo nyuwun donga mugi katampia arwahipun Semah, Bapak, Eyang kawulo hing ngarsanipun Allah SWT.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Surakarta, 20 Agustus 2016
Hingkang nandhang sungkowo


Ibu Endang Mardining (Istri)
Para Putra :
1.     Krisna Indra S – Kus Indah Cahyono       (Solo)
2.     Drajat Kelana Jaya                                (Solo)
3.     Wisnu Tri Kurni                                     (Solo)

Wayah :
1.     Muhammad Husain Robbany
2.     Muhammad Daud Yusuf


Senin, 15 Agustus 2016

Pengertian Alur dan Jenis Alur

Pengertian Alur dan Jenis Alur
Alur adalah urutan peristiwa dalam sebuah cerita yang sambung menyambung berdasarkan hubungan sebab-akibat. Pemahaman alur akan memudahkan kita memahami peristiwa dalam sebuah cerita, misalnya Novel Unsur penting dalam sebuah alur adalah peristiwa, konflik, dan klimaks. Unsur-unsur tersebut akan membuat cerita rekaan menjadi lebih hidup. Alur tidak hanya berkaitan dengan apa yang terjadi, tetapi juga mengungkap mengapa dan bagaimana suatu peristiwa dan konflik dalam cerita bisa terjadi. Secara umum, alur dalam sebuah cerita terbagi menjadi tiga jenis, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
Berikut ini penjelasan Jenis-jenis alur cerita tersebut:

  • Alur Maju: Tahapan peristiwa dalam alur ini diawali dengan pengenalan cerita, awal perselisihan, menuju konflik, konflik memuncak, dan diakhiri dengan penyelesaian konflik.
  • Alur Mundur: Tahapan peristiwa dimulai dari konflik dan di akhir cerita diungkapkan latar belakang terjadinya konflik.
  • Alur Campuran: Alur jenis ini merupakan gabungan antara alur maju dengan alur mundur. Satu saat cerita berjalan maju namun pada saat yang lain cerita berjalan mundur. Alur jenis ini memang tidak mudah untuk dipahami karena tahapan peristiwa dalam cerita melompat-lompat. Cerita jenis ini membutuhkan konsentrasi tinggi untuk memahami jalan ceritanya.

Preposisi

1.      Preposisi Tunggal
Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata, bentuk preposisi tunggal tersebut dapat berupa (1) kata dasar, misalnya di, ke, dari, dan pada, dan (2) kata berafiks, seperti selama, mengenai, dan sepanjang. (Moeliono,  1998: 294).
a.       Preposisi yang Berupa Kata Dasar
        Preposisi dalam kelompok ini hanya terdiri atas satu morfem. Berikut adalah contohnya.
akan
:
Takut akan kegelapan
antara
:
Antara anak dan ibu
b.       Preposisi yang Berupa Kata Berafiks
Preposisi dalam kelompok ini dibentuk dengan menambahkan afiks pada bentuk dasar termasuk kelas kata verba, adjektiva, atau nomina. Afiksasi dalam pembentukan itu dapat berbentuk penambahan prefiks, sufiks, atau gabungan kedua-duanya.
1.    Preposisi yang berupa kata berprefiks:
a.         Bersama     :   pergi bersama kakak
b.         Beserta       :   ayah beserta ibu
c.         Menjelang  :   pergi menjelang malam
2.    Preposisi yang berupa kata bersufiks:
a.         Bagaikan   :   cantik bagaikan bidadari
3.    Preposisi yang berupa kata berprefiks dan bersufiks:
a. Melalui   
:
dikirim melalui pos
b.       Mengenai
:
berceramah mengenai kenakalan remaja

2.      Preposisi Gabungan
Preposisi gabungan terdiri atas (1) dua preposisi yang berdampingan dan (2) dua preposisi yang berkolerasi.
a.       Preposisi yang Berdampingan
Preposisi jenis pertama terdiri atas dua preposisi yang letaknya berurutan. Berikut adalah contoh preposisi yang berdampingan.
1)        Daripada      :  menara ini lebih tinggi daripada pohon itu
2)        Kepada         :  buku itu diberikan kepada adik
3)        Oleh karena :   ia tidak masuk oleh karena penyakitnya
4)        Oleh sebab  :   tanaman itu mati oleh sebab kekeringan

Perlu diperhatikan pemakaian preposisi daripada yang sering disalahgunakan orang. Kata daripada dipakai hanya untuk menyatakan perbandingan dan bukan untuk menyatakan milik, menyatakan asal, atau menghubungkan verba dengan unsur yang mengikutinya.

b.       Preposisi yang Berkolerasi
Preposisi gabungan jenis kedua terdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan, tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain. Contoh:
1)      antara dia dan adiknya ada perbedaan yang mencolok
2)      kami membanting tulang dari pagi hingga petang.
3)      seminar itu diadakan dari hari senin sampai dengan kamis minggu depan.
c.       Preposisi dan Nomina Lokatif
Suatu preposisi juga dapat bergabung dengan dua nomina asalkan nomina yang pertama mempunyai ciri lokatif. Dengan demikian, kita temukan frasa preposisional, seperti di atas meja, kedalam rumah, dan dari sekitar kampus. Struktur frasa preposisional diatas tampak bahwa atas, dalam, dan sekitar merupakan bagian dari frasa nominal atas meja, dalam rumah, dan sekitar kampus dan bukan frasa gabungan di atas, ke dalam, dan dari sekitar.


Konjungsi Subordinatif

Pengertian Konjungsi Subordinatif

Konjungsi subordinatif adalah kata hubung yang digunakan untuk menghubungkan dua buah klausa, frasa, atau kalimat yang kedudukannya tidak setara atau tidak sederajat. Yang dimaksud dengan tidak sederajat adalah tidak sama atau tidak seimbang. Frasa, klausa, atau kalimat yang berkedudukan tidak setara apabila dipisah salah satunya tidak bisa berdiri sendiri. 


Perhatikan contoh berikut

Aku akan datang
Langit cerah 

Klausa – klausa di atasa dapat dihubungkan dengan konjungsi
 Jika

Aku akan datang jika Langit cera. 

Kalimat di atas adalah kalimat konjungsi subordinatif karena jika dipisah klausa
 langit cerah tidak dapat berdiri sendiri. 



Jenis – Jenis Konjungsi Subordinatif

Di bawah ini adalah jenis – jenis konjungsi subordinatif berdasarkan hubungan antar klausanya:
Hubungan Tujuan : Agar, supaya, untuk
Hubungan Sebab – akibat : Sebab, karena, oleh karena, Sehingga, sampai
Hubungan Perumpamaan : Seperti, seakan-akan, seolah-olah, laksana, ibarat
Hubungan Bersyarat : Jika, kalau, apabila
Hubungan waktu : Sejak, semenjak, ketika, tatkala, selama, serta, sambil, setelah, sesudah, sebelum
Hubungan Pengandaian : Andaikan, seumpama, sekiranya
Hubungan keterangan : Dengan, tanpa
Hubungan perlawanan :  Walaupun, sekalipun
Hubungan perbandingan : Sama …. dengan, lebih … dari.
Hubungan pelengkap : Yang, Bahwa 


Kalimat Majemuk

Kalimat Majemuk
Istilah "kalimat majemuk" mengacu pada jenis kalimat yang terdiri atas dua pola atau lebih. Hal ini didasarkan pada pengertian dari kalimat majemuk, yaitu suatu kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih, atau dengan kata lain kalimat yang terjadi dari beberapa klausa bebas. Jenis kalimat ini berasal dari perluasan atau penggabungan kalimat tunggal, untuk selanjutnya membentuk satu atau lebih pola kalimat baru di samping pola yang sudah ada sebelumnya. Kalimat majemuk dapat diartikan juga bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal. Setiap kalimat majemuk memiliki kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat ini dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakan. Fungsi utama dari kalimat majemuk adalah untuk menguraikan, menjelaskan, menjabarkan, dan memerinci.

Jenis Kalimat Majemuk
Jenis-jenis kalimat majemuk dapat dibagi berdasarkan proses terjadinya atau proses pembentukannya. Berdasarkan ini, kalimat majemuk terbagi menjadi 4 jenis, yaitu; kalimat majemuk setara, kalimat majemuk rapatan, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. Berikut ini penjelasannya satu per satu:

1. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat sederajat atau setara. Kalimat majemuk setara ini tidak memiliki anak kalimat. Kalimat majemuk setara dicirikan dengan adanya kata penghubung dan, lalu, atau, kemudian, namun, tetapi, sedangkan, dan melainkan.

2. Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat majemuk rapatan sebenarnya berasal dari kalimat majemuk setara yang dirapatkan bagian-bagiannya karena frasa/kata-kata dalam kalimat itu menduduki posisi yang sama. Bagian yang dirapatkan bisa subjek atau predikat. Perapatannya didapat dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang sama.

3. Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat merupakan satu jenis kalimat majemuk yang hubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat. Kalimat majemuk jenis ini kedudukan klausa-klausanya bertingkat sebagai hasil perluasan terhadap salah satu, beberapa, atau semua unsurnya hingga membentuk pola baru. Ada satu unsurnya yang berkedudukan sebagai induk kalimat, dan unsur lainnya berkedudukan sebagai anak kalimat.

4. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan kalimat majemuk setara atau rapatan dengan kalimat majemuk bertingkat. Umumnya dalam kalimat majemuk campuran, terdapat paling sedikit tiga kalimat tunggal.

Contoh Kalimat Majemuk
Setelah membaca pengertian dan jenis-jenis kalimat majemuk di atas, berikut ini kami tampilkan masing-masing contoh dari kalimat majemuk tersebut:

Contoh Kalimat Majemuk Setara
Contoh dari kalimat majemuk setara, antara lain sebagai berikut:
  • Ibu menyetujui niatku dan ayah merestuinya.
  • Kami akan pergi atau duduk saja di sini?
  • Siswa berencana karya wisata, tetapi guru melarangnya.
  • Saya membeli buku dan adik ikut membelinya juga
  • Saya ingin melanjutkan pendidikan di bidan kehutanan dan ternyata ayah sangat mendukung pilihan tersebut.
  • Harga BBM naik dan bahan pokok ikut naik

Contoh Kalimat Majemuk Rapatan
Contoh dari kalimat majemuk rapatan, antara lain sebagai berikut:
Pak Bahar, guru bahasa Indonesia.
Pak Bahar, teman ayahku
Pak bahar, guru bahasa Indonesia dan teman ayahku (rapatan subjek)
Ayah membawa roti
Ibu membawa roti
Ayah dan ibu membawa roti (rapatan predikat)

Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat
Contoh dari kalimat majemuk bertingkat, antara lain sebagai berikut:
  • Ketika sedang bekerja, Budi pingsan.
  • Asalkan mau belajar, kau pasti bisa mengerjakan soal itu.
  • Seandainya Andi datang lebih cepat, aku pasti bertemu dengannya.
  • Sepupu tinggal di kota agar bisa menemani ibunya.
  • Walaupun hatinya sedih, dia tidak pernah menangis.
  • Daripada melamun, bantulah ayahmu.
  • Acara itu dibatalkan karena hujan turun sangat deras
  • Kami tidak setuju, maka kami protes
  • Dia berjalan dengan santai.
  • Sekarang dia tahu bahwa adiknya bisa membaca.
  • Tanpa memakai kendaraan, Budi sampai di rumahku 

Contoh Kalimat Majemuk Campuran
Contoh dari kalimat majemuk campuran, antara lain sebagai berikut:
  • Ayah pulang ketika ibu memasak dan adik membaca buku.
  • Ujian sudah selesai ketika tim pemeriksa datan dan guru-guru sudah pulang.
  • Saya sedang menulis dan adik bermain ketika ayah datang.
  • Indonesia adalah negara pertanian, tetapi Indonesia menghadapi kendala serius dalam hal musim sehingga swasembada beras tidak tercapai.
  • Karena hari sudah malam, kami berbincang-bincang sebentar dan langsug pulang.
  • Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai. 

Pengertian Teks Iklan

TEKS IKLAN merupakan materi bahasa indonesia kelas XII yang akan kita bahas kali ini. Adapun yang akan dipelajari pada materi kali ini yaitu materi yang berhubungan dengan teks iklan. Adapun materi tersebut antara lain pengertian, struktur teks, kaidah kebahasaan, dan juga contoh teks iklan dari suatu produk.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu tidak asing dengan hal yang bernama iklan, hampir setiap hari bertemu dengan iklan. Iklan dapat ditemukan dalam beberapa aplikasi, bisa dalam media cetak seperti majalah ataupun koran, media elektronik seperti televisi, radio, dan lain-lain, atapun media luar ruang seperti baliho atau banner.

Pengertian Teks Iklan
Teks iklan merupakan salah satu media promosi yang efektif dalam memasarkan berbagai produk kepada konsumen karena daya jangkauannya yang luas dan masif. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan suatu produk, baik barang maupun jasa kepada masyarakat, guna menarik perhatian masyarakat untuk mengenali, membeli, hingga mengonsumsi atau menggunakan produk yang diiklankan. Persaingan di bidang iklan memang semakin tajam sejak adanya televisi. Namun, media cetak tetap memiliki pangsa pasar tersendiri dan tetap menjadi target produsen dalam mengiklankan produknya.

Fungsi Teks Iklan
Secara sederhana, pengertian teks iklan adalah sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan oleh suatu masyarakat lewat suatu media. Namun, untuk membedakannya dengan pengumuman biasa, iklan lebih diarahkan untuk membujuk orang supaya membeli. Iklan mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai berikut.
Sebagai informasi (menyampaikan info produk baru, ciri-ciri, dan lain-lain).
§ Sebagai persuasi (mengarahkan konsumen untuk membeli).
§ Sebagai reminder (iklan mengingatkan konsumen tentang produk tertentu agar selalu menggunakan produk tersebut).

Struktur Teks Iklan
Teks iklan yang akan anda pelajari pada artikel ini berisi tentang promosi produk barang dan jasa. Anda diharapkan agar dapat memahami contoh teks iklan produk dibawah ini. Sebuah teks iklan memiliki struktur yang terdiri dari judul, nama produk, dan penjelasan tentang produk.
§ Judul, terletak di bagian paling atas dari teks iklan, tetapi tidak semua iklan mencantumkan judul, sebagian teks iklan meletakkan nama produk di bagian paling atas.
§ Nama produk, berisi nama produk yang diiklankan.
§ Penjelasan tentang produk, berisi deskripsi produk yang diiklankan, seperti spesifikasi, cara mendapatkan produk yang diiklankan, alamat, dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Ciri Kebahasaan Teks Iklan
Selain struktur yang telah diuraikan diatas, teks iklan juga memiliki ciri-ciri kebahasaan yang membedakan dengan teks-teks lain. Ciri-ciri kebahasaan tersebut adalah sebagai berikut.
§ Menggunakan Slogan
Slogan adalah perkataan atau kalimat yang menarik, mencolok, dan mudah diingat untuk menyampaikan sesuatu. Slogan biasanya terdiri dari empat sampai lima kata yang mudah diingat dan tentunya memiliki daya tarik yang kuat agar pesan yang dimaksud bisa sampai ke orang yang diajak.

Dalam iklan, slogan adalah pernyataan atau susunan kata tertentu yang menjelaskan singkat suatu produk atau jasa layanan sehingga mudah diingat publik. Slogan sangat penting untuk dunia periklanan. Dengan slogan, iklan tersebut akan mudah diingat publik dan akan lebih terkenal. Selain iklan, slogan juga digunakan pada saat kampanye, misal kampanye anti narkoba, anti korupsi, da kampanye pemilihan daerah.

Kalimat-kalimat slogan haruslah kreatif dan juga tidak ketinggalan zaman agar masyarakat semakin mudah mengingatnya. Penggunaan slogan yang berhasil terlihat dari seberapa jauh masyarakat mengenal slogan tersebut. Bila slogan berhasil, hanya dengan mendengar slogannya, orang-orang akan mengetahui jenis produk yang memakai slogan tersebut.

§ Kalimat Persuasif
Kalimat persuasif adalah kalimat yang bertujuan meyakinkan dan membujuk pembaca agar melaksanakan atau menerima gagasan penulis terhadap suatu hal. Terdapat beberapa kalimat persuasif yang terdapat pada iklan produk tersebut, salah satunya adalah : "murah, cepat dan handal".

§ Menggunakan Subjek Orang Pertama
Teks iklan biasanya menggunakan subjek orang pertama tunggal atau jamak, seperti aku, saya, dan kami untuk mengganti pihak atau instansi pemasang iklan. Subjek yang digunakan pada teks iklan tersebut adalah subjek orang pertama jamak, yaitu kami.



Sintaksis

A. Beberapa Fungsi Sintaksis Unsur Kalimat
Dalam kalimat terdapat beberapa fungsi sintaksis. Fungsi sintaksis tersebut dimiliki oleh setiap unsur kalimat. Unsur kalimat merupakan satuan gramatik dapat berupa kata, frasa, atau klausa yang membentuk kalimat. Fungsi sintaksis kalimat ada bermacam-macam.


1. Subjek (selanjutnya disebut S)
Subjek dapat dicari dengan menggunakan kata tanya apa atau siapa. Subjek umumnya terletak di sebelah kiri predikat. Subjek pada kalimat aktif dapat menjadi objek jika kalimat tersebut dipasifkan. Subjek memiliki ciri-ciri sebagai berikut.


a. Berupa kata benda, frasa benda, atau klausa.
Contoh:
1). Ayah  Membaca  koran  di teras
        S             P             O      Ket. Tempat


2). Ayah Tuti           bekerja   di rumah sakit daerah.
     S (frasa benda)       P               Ket. tempat


3). Orang yang tidak ikut upacara  akan dikenai  sanksi
                          S (kalusa                             P              O


b. Dapat diikuti partikel pun
Contoh:
1) Ayah pun   membaca koran  di teras
      S (kata)            P           O       Ket. Tempat


2). Ayah Tuti pun   bekerja   di rumah sakit daerah
     S (frasa benda)         P               Ket. tempat


3). Orang yang tidak ikut upacara pun  akan dikenai  sanksi
                            S (kalusa)                          P                       O


Subjek dibedakan menjadi dua, yaitu subjek pelaku dan subjek penderita. Subjek pelaku adalah subjek yang melakukan perbuatan. Subjek pelaku terdapat dalam kalimat aktif.
Contoh:
Penduduk desa   membangun   jembatan
              S                       P                   O
(S sebagai pelaku yang membangun jembatan)


Anak-anak   berbondong-bondong   ke depan sekolah
          S                            P                        Ket. Tempat
(S sebagai pelaku yang berbondong-bondong)


Subjek penderita adalah subjek yang dikenai pekerjaan. Subjek penderita terdapat dalam kalimat pasif.
Contoh:
Padi sedang dijemur petani
   S               P                  O
(S dikenai pekerjaan jemur oleh petani)


Buku dipinjam Deni  tadi pagi
    S          P          O     Ket. waktu
(S dikenai pekerjaan pinjam oleh Deni)


2. Predikat (selanjutnya disebut P)
Predikat merupakan unsur yang harus ada dalam kalimat. Predikat disebut unsur inti kalimat. Unsur predikat dapat diisi oleh kata kerja, kata benda, kata sifat, kata bilangan, frasa kerja, frasa benda, frasa sifat, atau frasa bilangan.
Contoh:
Aditya sedang membaca buku
      S          P              O
(P merupakan frasa kata kerja)


Ayahnya seorang dokter
        S                 P
(P merupakan frasa benda)


Fitria pintar sekali
    S             P
(P merupakan frasa sifat)


Adiknya  dua
     S           P
(P merupakan kata bilangan)


3. Objek (selanjutnya disebut O)
Objek terletak setelah predikat. Objek merupakan unsur yang dapat hadir atau tidak. Objek wajib hadir dalam kalimat transitif. Dalam kalimat intransitif objek tidak diperlukan. Objek dalam kalimat aktif akan menjadi subjek dalam kalimat pasif. Objek dapat berupa kata benda atau frasa benda.
Contoh:
Andi mengunjungi Pak Rustam
    S               P                   O
(Pak Rustam sebagai objek dalam kalimat aktif)


Pak Rustam dikunjungi Andi
          S                  P            O
(Pak Rustam sebagai subjek dalam kalimat pasif)


Objek dibedakan menjadi objek penderita dan objek pelaku. Objek penderita adalah objek yang dikenai pekerjaan. Objek ini selalu ada dalam kalimat aktif. Dalam kalimat pasif objek ini dapat berubah menjadi subjek. 
Contoh:
Amin meletakan buku di meja tulis
    S           P             O     Ket. tempat
(O sebagai penderita yang diletakan)


Ibu menasihati Hasan agar rajin belajar
   S         P               O              Pel
(O sebagai penderita yang dinasihati)


Objek pelaku merupakan objek yang melakukan perbuatan. Objek pelaku terdapat dalam kalimat pasif.
Contoh:
Buku diletakan Amin di meja tulis
   S            P          O      Ket. tempat
(O sebagai pelaku yang meletakan)


Hasan dinasihati Ibu agar rajin belajar
     S            P          O            Pel.
(O sebagai pelaku yang menasihati)


4. Pelengkap (selanjutnya disebut Pel.)
Pelengkap disebut juga komplemen. Pelengkap pada dasarnya mirip dengan objek sehingga orang sering mencampur adukan pengertian objek dan pelengkap. Objek dan pelengkap sama-sama terletak di belakang predikat. Objek dapat berupa kata benda atau frasa benda. Namun, objek dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif, sedangkan pelengkap tidak
Contoh:
Fikri berdagang barang elektronik (berterima)
    S           P                     O
Barang elektronik didagang Fikri (tidak berterima)
             S                         P          O
Berikut ini disajikan persamaan objek dan pelengkap.


Objek
Pelengkap
Berwujud kata benda, frasa benda, atau klausa
Berwujud frasa benda, frasa kerja, frasa sifat, frasa depan, atau klausa.
Berada langsung di belakang predikat
Berada langsung dibelakang predikat jika tidak ada objek dan dibelakang objek jika objek hadir dalam kalimat
Dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.
Tidak dapat dijadikan subjek dalam kalimat pasif
Dapat diganti dengan pronominal –nya
Tidak dapat diganti dengan –nya kecuali bergabung dengan preposisi selain di, ke, dari, dan akan

5. Keterangan
Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling mudah berpindah tempat.Keterangan dapat berada di akhir, di awal, atau ditengah kalimat. Kehadiran keterangan dapat bersifat manasuka atau dapat ada atau tidak dalam kalimat. Keterangan dapat berupa frasa benda, frasa kerja, frasa sifat, atau frasa depan.
Contoh:
a. Fahri memotong rambutnya dengan gunting
        S           P                   O              Ket. Cara
b. Dengan gunting Fahri memotong rambutnya
           Ket. Cara          S             P                O
c. Fahri dengan gunting memotong rambutnya
   S               Ket. Cara             P                    O


Keterangan dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Keterangan tempat
2. Keterangan waktu
3. Keterangan alat
4. Keterangan tujuan
5. Keterangan cara
6. Keterangan penyerta
7. Keterangan perbandingan/kemiripan
8. Keterangan sebab, dan

9. Keterangan kesalingan